Email buat Bapak Dr. Saafroedin Bahar
Assalamu’alaikum, Wr. Wb.
Kepada Yth,
Bapak Dr.Saafroedin BAHAR
Bertambah banyak pengetahuan saya, setelah membaca beberapa tulisan Bapak yang di ada Internet, mengenai permasalahan Adat di Minangkabau.Saya membaca diskusi dan pertanyaan tentang adat minangkabau, kebanyakan yang timbul adalah persoalan klasik, yang berlayar berputar-putar atau berkelok-kelok ditepian sungai yang deras dan hanyut sebegitu saja, sehingga tidak menemukan muara yang sebenarnya, untuk mencari penyelesian yang tuntas dan pasti.
Sudah lama rasanya saya memendam hasrat untuk menyampaikan polemik yang ada pada diri saya, mudah-mudah Bapak lah tempatnya yang dapat menerima buah pikiran saya selama ini tersimpan, entah kemana ingin saya sampaikan.
- Perjuangan Imam Bonjol belum selesai, terasa tersia-siakan begitu saja, yang hanya dapat memberikan traktat Adat Basandi Syara’ Syara’ Basandi Kitabullah, namun implementasinya hanya sebatas Ibadah saja, Al-Quran dan Sunnah, secara menyeluruh belum menjadi way of life bagi masyarakat Minang, untuk menghantarkan keselamatan dan kebahagian Dunia dan Akhirat. Adat Minangkabau yang ada selama ini saya fahami, adalah faham Islam Sekuler, padahal Allah SWT. telah berfirman :
“Mereka itu orang - orang yang kufur terhadap ayat - ayat tuhan mereka dan ( kufur terhadap ) perjumpaan dengan dia , maka hapuslah amalan - amalan mereka , dan kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi ( amalan ) mereka pada hari kiamat” . (18:105, Al-Kahfi)
“Hai orang - orang yang beriman , masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhannya , dan janganlah kamu turut langkah - langkah syaitan . Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu” . (2:208, al-baqarah)
“Sesungguhnya agama ( yang diridhai ) di sisi Allah hanyalah Islam . Tiada berselisih orang - orang yang telah diberi al - kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka , karena kedengkian ( yang ada ) di antara mereka . Barang siapa yang kafir terhadap ayat - ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab - Nya “. (3:19, ali imran)
“Hai orang - orang yang beriman , bertakwalah kepada Allah sebenar - benar takwa kepada - Nya ; dan janganlah sekali - kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam” . (3:102, ali imran)
- Pergerakan dakwah Islam di Sumatera Barat mengalami sesuatu kemunduran, yang ditandai dengan maraknya kemasiatan dan pemurtadan serta bencana. Hal ini merupakan konsekwensi logis yang telah diterima bagi masyarakat minang, dimana dakwah bukan lagi diterima menjadi pelajaran dan himbauan, tapi hanya sebuah dagelan untuk mempertahankan eksistensi diri sebagai orang Islam. Seorang Mubaliq tidak dapat menyampaikan ajaran Islam secara mendetail di hadapan masyarakat karena ini sebuah dilema klasik, bagaikan makan buah simalakama.
Masyarakat minang masih mengunakan paradigma lama yaitu mempelajari adat terlebih dahulu baru kemudian mempelajari Syara dan terakhir mempelajari Kitabullah dilakukan secara parsial, dan inilah yang harus di rubah menjadi paradigma baru yaitu pelajari Kitabullah dan pahami kedalam Syara serta amalkan dalam Adat.
Saya pernah berdialog dengan seorang ulama di kampung yang menurut saya dia konsekwen dalam memberikan ajaran Islam, baik pada Kotbah Jum’at ataupun ceramah agama dan saya menanyakan kepadanya :” Sejauh mana Actualisasi Implementasi Adat basandi syara’ syara basandi Kitabullah dikampung kita ini ? dengan uraian jawaban itu, ketika kami mengadakan pulang kampung basamo tahun 2001, kami mengadakan seminar dengan tema “ Evaluasi Actualisasi ABS SBK” dengan mengundang tokoh ‘tiga tunggu sajarangan’ termasuk pemuda, dari penyampaian makalah dan diskusi panjang, alhasil dan sangat memperhatikan bahwa seluruh rangkaian seminar ini, diterima pada tahap wacana saja, dan kami mengurut dada mengucapkan Astagfirullah…….
Dalam hal ini, saya ingin mencoba menyampaikan usul kepada Bapak, yaitu : Sebagai solusi utama adalah dicanangkannya penegakan dan menjalankan Syariah Islam untuk dijadikan suatu intitusi pada pemerintahan Sumatera Barat, dalam pengembanan ABS SBK, sebagai penerus dari cita-cita perjuangan Imam Bonjol.
Demikian saya sampaikan lebih kurang saya mohon maaf dan ke Allah SWT. saya mohon ampun. Dan saya mohon tanggapan Bapak, sebelum dan dan sesudah saya ucapkan terima kasih.
Wassalam, WR. WB.
Pandu Pranawijaya
Waalaikumsalam w.w. Ananda Pretty Alchani,
Tidak ada yang perlu saya tambahkan atau saya kurangkan dari pandangan Ananda ini, karena memang demikianlah adanya. Rasanya secara konseptual saya sudah habis-habisan berusaha agar ABS SBK tersebut ditindaklanjuti secara konsisten. Saya persilakan Ananda melihat di website saya www.saafroedinbahar.grahacitra.com untuk melihat apa fikiran saya dan lihatlah juga di RantauNet polemik saya dengan dua orang pemangku adat, yaitu Dt Endang Pahlawan, serta Azmi Dt Bagindo. Paling akhir bacalah makalah Bachtiar Abba Dt Rajo Suleman SH MH dan makalah Dra Rahimah Rahim MA.
Ada dua pandangan mengenai ABS SBK ini yang rasanya tidak mungkin dipersatukan lagi, sehingga akhirnya saya menyarankan dibuat dua mazhab ABS SBK ini, yang untuk sementara saya namakan ABS SBK Mazhab Ranah atau Mazhab Klasik, dan ABS SBK Mazhab Rantau, atau namakanlah Mazhab Modern, atau apalah. Biar keduanya berlomba dalam kebaikan, 'fastabiqull khairaat'.
Yang perlu dilakukan sekarang adalah mengkonsolidasi pendukung ABS SBK Mazhab Rantau atau Mazhab Modern. Tidak semua datuk setuju dengan tafsiran adat menurut Bachtiar Abna dan Dt Endang tersebut, misalnya Hasan Basri Durin Dt Rangkayo Basa nan Kuniang sangat vokal menunjukkan kekurangan adat Minangkabau ini.
Saya belum tahu sampai berapa jauh keinginan Ananda untuk menyelesaikan perjuangan Tuanku Imam Bonjol ini. Kalau memang sungguh-sungguh, carilah teman sefaham, rumuskan wawasan Ananda, dan tampillah menyuarakan wawasan Ananda itu. Jika Ananda perlukan dengan senang hati saya bersedia memberi masukan. Se.lain itu, saya bisa memfasilitasi Ananda untuk tampil di TVRI Padang, karena pimpinannya Drs Purnama Suwardi sudah lama ingin agar masalah ABS SBK ini dibahas oleh yang muda-muda.
Saya menunggu khabar dari Ananda.
Wassalam,
Saafrioedin Bahar

Tidak ada komentar:
Posting Komentar